Selasa, 20 Agustus 2013


Monolog
  Monolog juga salah satu kegiatan seni yang dicakup dalam teater, jadi MONOLOG adalah suatu percakapan seorang pelaku dengan dirinya sendiri. Dengan melakukan monolog, penonton dapat mengetahui, gejolak perasaan yang sedang dirasakannya oleh pemain pada waktu itu.
Perhatikan cuplikan monolog tokoh Larasati dalam Lakon Kuda Perang, sebuah lakon adaptasi dari Egmont karya Goethe.
LARASATI : Kakang Purbatura, kaukah itu ? tak ada siapa-siapa? Aku akan menaruh lampu ini di jendela. Mungkin ia akan melihat bahwa aku masih bangun. Bahwa aku masih menunggunya. Ia berjanji akan memberi khabar…….memberi khabar……….?
Mengerikan……..! Pangeran Angkaraksa ditangkap ! Pengadilan mana yang mempunyai wewenanguntuk memanggil dia? Mereka berani menangkapnya? Baginda yang menghukum dia, ataukah Adipati Andalan ? Ratu Pramodarwardhani mengundurkan diri. Pangeran Jinggalaras was-was seperti juga teman-temannya. Ini kah dunia yang penuh tingkah dan penghianatan, sementara aku tak berpengalaman apa-apa? Ini kah dunia?
Siapa yang sanggup berbuat begitu hina, begitu kurang ajar, dengki, mendendam seorang yang begitu baik……..?
Oleh Pengeran Anggaraksa, aku mintakan do’a keselamatan di hadapan Dewata, semoga selamat seperti ketika berada dalam genggaman tanganku…………………dst.


  Monolog dapat kita gambarkan sebagai orang yang berdrama namun hanya diwakilkan oleh seorang aktor maupun aktris. di bali ada banyak event - event lomba monolog , jadi siapakan diri anda untuk bermain dan belajar seni karena seni akan selalu melekat dalam jiwa seseorang.
TEKNIK BERMAIN DRAMA

Ilustrasi Pementasan Drama

Teknik bermain (akting) merupakan unsur penting dalam seni peran. Berikut ini hal-hal yang sangat mendasar berkaitan dengan teknik bermain drama.
1. Teknik Muncul
  • Teknik muncul adalah cara seorang pemain tampil pertama kali ke pentas yaitu saat masuk ke panggung telah ada tokoh lain, atau ia masuk bersama tokoh lain. Tentu, setelah muncul, pemain harus menyesuaikan diri dengan suasana perasaan adegan yang sudah tercipta di atas pentas. Kehadiran seorang tokoh harus mendukung perkembangan alur, suasana, dan perwatakan yang sudah tercipta atau dibangun.
2. Teknik Memberi Isi
  • Kalimat ”Engkau harus pergi!” mempunyai banyak nuansa. Ucapan tulus mengungkap keikhlasan atau simpati, sedangkan ucapan kejengkelan atau kemarahan tentu bernada lain. Nuansa tercipta melalui tekanan ucapan yang telah dijelaskan di muka (tekanan dinamik, tekanan nada, dan tekanan tempo).
3. Menciptakan Peran
  • Tentu saja untuk menciptakan peran, pemain harus sadar bahwa ia sedang ”memerankan sebagai……..” Artinya, seluruh sifat, watak, emosi, pemikiran yang dihadirkan adalah sifat, watak, emosi, dan pemikiran ”tokoh yang diperankan”. Dengan demikian, seorang pemain harus berkemampuan menciptakan peran dalam sebuah pertunjukan.
Hal-hal berikut dapat membantu untuk menciptakan peran:
  • kumpulkan tindakan-tindakan pokok yang harus dilakukan oleh pemeran dalam pementasan
  • kumpulkan sifat-sifat tokoh, termasuk sifat yang paling menonjol
  • carilah ucapan atau dialog tokoh yang memperkuat karakternya
  • ciptakan gerakan mimik atau gesture yang mampu mengekspresikan watak tokoh
  • ciptakan intonasi yang sesuai dengan karakter tokoh
  • rancanglah garis permainan tokoh untuk mlihat perubahan dan perkembangan karakter tokoh
  • ciptakan blocking dan internalisasi dalam diri sehingga yang berperilaku adalah tokoh yang diperankan.
4. Teknik Pengembangan
  • Teknik pengembangan berkait dengan daya kreativitas pemeran, sutradara, dan bagian estetis. Dengan pengembangan, sebuah naskah akan menjadi tontonan memikat. Bagi pemain, pengembangan dapat ditempuh dengan beberapa cara, diantaranya:
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan (vital) dalam action drama adalah sebagai berikut:
a. Pengucapan
  • Pengembangan pengucapan dapat ditempuh dengan menaikkan – menurunkan volume dan nada. Dengan demikian setiap kata, frase, atau kalimat dalam dialog diucapkan dengan penuh kesadaran. Artinya, setiap pemain sadar kapan harus mengucap dengan keras-cepat-tinggi atau lembut-lambat-rendah.
b. Gesture
  • Pengembangan gesture dapat dicapai dengan lima cara. Setiap cara, tentu saja, tidak dapat dipisah-pisahkan sebab saling melengkapi dan menyempurnakan.
(1) Menaikkan posisi tubuh
  • Menaikkan posisi tubuh berarti ada gerakan baik dari menunduk-menengadah, tangan terkulai menjadi teracung, berbaring-duduk-berdiri, atau berdiri di lantai-kursi-meja.
(2) Berpaling
  • Berpaling mempunyai arti yang spesifik dalam pengembangan dialog: tubuh atau kepala. Perhatikan dialog berikut ini dan tentukan pada bagian mana kita harus berpaling. (”Aku iri denganmu. Kadang-kadang aku berpikir untuk keluar saja, lalu buka bengkel juga. Tidak ada hierarki. Tidak ada rapat-rapat panjang.”)
(3) Berpindah tempat
  • Berpindah tempat dapat terjadi dari kiri-kanan, depan-belakang, bawah-atas. Tentu, harus ada alasan yang kuat mengapa harus berpindah
(4) Gerakan
  • Gerakan anggota tubuh: melambai, ,mengembangkan jari-jari, mengepal, menghentakkan kaki, atau gerakan lain seturut dengan luapan emosi. Ada tiga kategori melakukan gerakan: a) gerakan dilakukan bersamaan dengan pengucapan kata, b) gerakan dilakukan sebelum kata diucapkan, c) gerakan dilakukan sesudah kata diucapkan.
(5) Mimik
  • Perubahan wajah atau mimik mencerminkan perkembangan emosi. Tanpa penghayatan dan penjiwaan tidak mungkinlah timbul dorongan dari dalam atau perasaan-perasaan. Justru perasaan inilah yang mendasari raut wajah.
  Teater adalah istilah lain dari drama, tetapi dalam pengertian yang lebih luas, teater adalah proses pemilihan teks atau naskah, penafiran, penggarapan, penyajian atau pementasan dan proses pemahaman atau penikmatan dari public atau audience (bisa pembaca, pendengar, penonton, pengamat, kritikus atau peneliti). Proses penjadian drama ke teater disebut prose teater atau disingkat berteater. Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Teater dalam arti sempit adalah sebagai drama (kisah hidup dan kehiudpan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan orang banyak dan didasarkan pada naskah yang tertulis). Dalam arti luas, teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak contohnya wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.
  Dalam berdrama juga kita memerlukan gerak tubuh dan ekspresi atau sering disebutkan dengan akting untuk mengungkapkan tersebut.
  

Akting Yang Baik

Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.

Dialog yang baik ialah dialog yang:
  • Terdengar (volume baik)
  • Jelas (artikulasi baik)
  • Dimengerti (lafal benar)
  • Menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Gerak yang baik ialah gerak yang:
  • Terlihat (blocking baik)
  • Jelas (tidak raguragu, meyakinkan)
  • Dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
  • Menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
  • Unsur-Unsur Dalam Teater

    Unsur-unsur dalam teater antara lain:

    1. Naskah atau Skenario

    Naskah atau Skenario berisi kisah dengan nama tokoh dan dialog yang diucapkan .

    2. Pemain

    Pemain merupakan orang yang memerankan tokoh tertentu. Ada tiga jenis pemain, yaitu peran utama, peran pembantu dan peran tambahan atau figuran. Dalam film atau sinetron, pemain biasanya disebut Aktris untuk perempuan, dan Aktor untuk laki-laki.

    3. Sutradara

    Sutradara adalah seseorang yang memimpin jalanya sebuah produksi, dari pra produksi sampai pascaproduksi. Baik dari segi kreatif maupun teknis, dengan menggunakan sistem single kamera maupun multi kamera, didalam ruangan atau di luar ruangan.

    4. Properti

    Properti merupakan sebuah perlengkapan yang diperlukan dalam pementasan teater. Contohnya kursi, meja, robot, hiasan ruang, dekorasi, dan lain-lain

    5.Penataan

    Seluruh pekerja yang terkait dengan pementasan teater, antara lain:

    1. Tata Rias adalah cara mendadndani pemain dalam memerankan tokoh teater agar lebih meyakinkan.
    2. Tata Busana adalah pengaturan pakaian pemain agar mendukung keadaan yang menghendaki. Contohnya pakaian sekolah berbeda dengan pakaian harian.
    3. Tata Lampu adalah pencahayaan dipanggung.
    4. Tata Suara adalah pengaturan pengeras suara.